Type something and hit enter

author photo
By On


MAHASISWA KALAH DENGAN KOMUNITAS UNTUK MASALAH ‘PENGGALANGAN DANA’?

Tiba tiba inget obrolan dulu pada masih aktif organisasi di kampus yang membahas tentang mahasiswa/i yang masih suka (atau akan terus) penggalangan dana di lampu merah cuma bawa kotak amal bekas kardus yang ditempeli kertas print yang mulai pudar ‘PEDULI BLAA BLAAA BLAA...). Rata-rata emang yang begitu ya mahasiswa/i , oke kalo masih pelajar SMA/SMP masih bisa dikatakan minim, tapi yang seharusnya mahasiswa kritis/kreatif yang SEHARUSNYA bisa lebih bisa memanfaatkan apa yang minimal menjadi maksimal, lalu apa bedanya mahasiswa/i dengan pengemis di lampu merah? Cuma beda di almamater dan pengemis gk pegang HP untuk instastories.. hmmmm

Yang menjadi cambukan buat gue yang notabene mahasis(w)a juga saat gue tau ada teman-teman dari antar komunitas komunitas yang gabung menjadi satu tujuan untuk melakukan penggalangan dana yang bernama RESPONSIVE FOR BENGKULU untuk saudara saudara yang terkena bencana di Bengkulu. Di luar prediksi ternyata kenyataannya komunitas memang lebih Kreatif/kritis dibanding kalian dibalik almamater kalian. Pentingnya sebuah kesadaran yang sangat besar dan juga jaringan yang besar pula untuk bisa membuat komunitas komunitas ini bersatu. Hal ini yang tidak dimiliki mahasiswa/i sekarang yang hanya gaya nya dulu daripada kelakuannya, no offense yak tapi sebagai bahan pelajaran aja.

Lupakan mahasiswa/i di bawah teriknya matahari dan lampu merah, kita bahas RESPONSIVE FOR BENGKULU aja. Acara penggalangan dana yang dilakukan pada bulan Ramadhan kemarin ini dilakukan beberapa minggu secara estafet dari tempat ketempat saat sore (ngabuburit) mulai dari bawah Fly Over Pahoman, Tugu Juang, Elephant Park. Banyak lapakan lapakan indpendent seperti zine, album, lukisan, artwork, kaos Tie dye, dan banyak lagi sumbangan sumbangan dana, dan dari hasil lelang. Dan hasil dari acara ini terkumpul berapa gitu gue lupa tapi lumayan banget dan lebih puas karena memang dilakukan secara independent tanpa memikirkan keuntungan. Salute!

Tentunya pasti ada band-bandnya dong... cukup banyak yang mau berpartisipasi dalam acara amal ini. For fun sih tapi dikemas serius, tapi tetep aja ada yang merasa ingin dituakan, ada aja masalah klasik yang seharusnya gk terjadi tapi masih aja ada yang berpikiran kayak gitu. Tapi yaudahlah kita doakan band band yang seperti itu cepet berubah, hilangin egonya dikit untuk skena bersama kan gk ada ruginya. Dan semoga anak anak dan keluarga korban bencana di Bengkulu bisa bangkit kembali dan bantuan yang didapat bisa membantu kalian disana.

Dan yang terakhir untuk mahasiswa/i yang masih suka amal di lampu merah coba ubah pola pikir kalian, bisa lakukan dengan hal hal yang lebih simpel contohnya ya jual gorengan mungkin? Itu lebih cool dari pada kalian nampang badan di lampu merah. Yee gaak? RIOT!